Musikalisasi Puisi “Berita Perjalanan” karya Sitor Situmorang oleh Frau

Pada Malam Puncak peringatan 100 hari kepergian sastrawan serba bisa Sitor Situmorang, “100 Kenangan Sitor Situmorang – Belajar Menjadi Indonesia,” penyanyi yang dikenal nama panggung FRAU membawakan musikalisasi puisi karya Sitor Situmorang berjudul Berita Perjalanan.

“Berita Perjalanan”

Kujelajah bumi dan alis kekasih
Kuketok dinding segala kota
Semua menyisih

Keragaman nikmat bebas
Serta kerdilnya ikatan batas
Tersisa di tangkapan hanya hampa

Saat memuncak
Detik menolak
Terbanting diri pada kebuntuan

Hati berontak
Batas mengelak
Meruah ingin dalam kekosongan

Jakarta, A’dam, Paris, Genova satu nama
Salju Alpina di jibuti guruan Afrika
Sejak itu sepakat kebuntuan
Jadi teman seperjalanan kekosongan
Dalam sajak mencari kepenuhan
Perang antara kesetiaan dan pengembaraan

Film Indonesia dan ‘Nasionalisme Kemenyan’

Film seharusnya bagian dari percakapan dalam membangun gagasan tentang “apa itu bangsa” dan “siapa itu kita”.

“Kulihat prajurit TNI, sedang bersusah hati. Air matanya berlinang, karena tak ada nasi,” senandung seorang pejuang dalam sinema Darah dan Doa karya Usmar Ismail pada 1950. Usia telah melunturkan gambar dan suara film itu, namun pesan cerita dan gagasannya masih menjadi wacana hingga hari ini.

Darah dan Doa berkisah tentang situasi hijrahnya Tentara Nasional Indonesia dari Yogyakarta ke Jawa Barat pada awal 1949 setelah rentetan penyerangan Belanda dalam Aksi Polisional. Para prajurit Divisi Siliwangi beserta keluarga mereka menyusuri perjalanan nan panjang dalam medan berat. Kekurangan pangan dan cidera merupakan keniscayaan dan sekaligus ancaman bagi mereka.

Dalam kecamuk perang gerilya, Kapten Sudarto dikisahkan telah jatuh cinta kepada dua gadis selama perjalanan nan panjang ini: seorang gadis asal Jerman dan seorang gadis juru rawat. Sang Kapten juga telah difitnah oleh rekan seperjuangannya, mendekam dalam penjara. Dalam situasi kesalahpahaman, Sudarto tewas ditembak oleh anggota partai komunis yang pernah memberontak pada 1948.

Film ini didanai seratus persen dari modal milik orang Indonesia—berbeda dengan film-film sebelumnya. Usmar pernah mengatakan bahwa modal pembuatan film ini diperoleh dari “masyarakat yang mau menanggungkan”.

“Ini menarik karena saat itu film masih menjadi bagian percakapan intelektual,” kata Hikmat. “Dan, film ini dibuat sebagai kesadaran bercakap tentang apa ini bangsa di masa bayinya.”

Meskipun tidak terlalu laku di pasaran, film ini diklaim sebagai film pertama Indonesia. Bahkan pengambilan gambar pertamanya pada 30 Maret 1950 telah diperingati sebagai Hari Film Nasional. Namun, belakangan timbul kontroversi karena sebagian pihak mempertanyakan ketepatan historisnya.

Pada 20 April 2015, film legendaris ini ditayangkan kembali di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, dalam suasan acara mengenang 100 hari wafatnya Sitor Situmorang. Sebuah diskusi bertajuk “Jejak Sitor Situmorang dalam Film Nasional” digelar bersama narasumber JJ Rizal, sejarawan, dan dimoderatori oleh Hikmat Darmawan, pengamat film dan komik. Sitor dikenal sebagai seorang wartawan, sastrawan, penyair, dan kritikus film. Namun, sedikit orang yang mengetahui bahwa Sitor turut menginspirasi film nasional.

Dalam pengantar diskusi, Hikmat mengatakan bahwa saat itu telah muncul kesadaran untuk membicarakan persoalan Indonesia terkini. “Ini menarik karena saat itu film masih menjadi bagian percakapan intelektual,” kata Hikmat. “Dan, film ini dibuat sebagai kesadaran bercakap tentang apa ini bangsa di masa bayinya.”

“Ini film yang menurut saya nekat pada zamannya,” ujar Rizal. “Tetapi juga film yang sangat luar biasa karena berani-beraninya mempertanyakan sejarah yang belum selesai di umur Republik yang masih sangat muda.”

Akibatnya, film ini sempat menimbulkan polemik besar ketika pertama kali beredar. Polemik tersebut berkisar pertanyaan apakah semua orang Darul Islam—seperti aksi yang ditampilkan dalam film—adalah orang yang murtad dari Republik? Apakah Divisi Siliwangi merupakan satu-satunya yang terhebat? Juga, sosok Kapten Sudarto yang tidak tampak sebagai seorang pahlawan, bahkan terkesan lembek dan melankolis dalam hal perempuan.

Pemutaran perdananya menanti waktu yang tepat lantaran semua orang berpolemik—meributkan sesuatu yang belum mereka tonton. Pada akhirnya, Bung Karno mengambil keputusan untuk mengizinkan peredaran film ini. “Dalam sejarah di Republik kita,” Rizal berkata, “mungkin satu-satunya film yang diputar di istana adalah film Darah dan Doa, setelah itu tidak ada lagi.”

“Film ini, menurut saya, inspirasinya tetap dari cerita yang semula digagas oleh Sitor,” tutur Rizal. Namun, imbuhnya, “di film ini bukan Sitor yang menulis skenario, tetapi Usmar.” Lebih dari dua windu silam, Rizal telah menuntaskan studinya di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dengan kajian Sitor Situmorang: Biografi Politik 1956-1967.

Dalam ulasan dalam sejarah film Indonesia, ungkap Rizal, “Sitor dikatakan hanya menulis tidak ada seperempat halaman kuarto”, tetapi ada juga yang menyebutkan dalam pemerian lama bahwa “ini sebenarnya cerpen Sitor yang tidak pernah dipublikasi karena sudah difilmkan oleh Usmar Ismail.”

Rizal yakin bahwa gagasan kisah Darah dan Doa berasal dari pengalaman Sitor selama masa revolusi. Dia menyebutkan adanya kesamaan cerita dengan apa yang dialami Sitor, seperti hadirnya perempuan Jerman dalam film tersebut, yang tampaknya terinspirasi kedekatan Sitor dengan seorang perempuan Jerman yang juga menggemari sastra. Sitor pernah bertemu dengan seseorang dengan nasib seperti Kapten Sudarto ketika dia menjalani hukuman di Wirogunan, Yogyakarta.

Dalam diskusi diungkapkan juga bahwa gagasan kisah yang bisa dipetik dari sinema ini bukanlah perang istimewa, melainkan aspek inisiatif bergotong-royong dalam kewajiban merawat kebudayaan justru ketika usia Republik Indonesia masih sangat muda. Usmar, Sitor, dan para pendukung film ini tampaknya telah berpikir bahwa merawat kebudayaan merupakan urusan yang sangat penting karena kebudayaan merupakan ruang-dalam dari suatu bangsa.

“Mereka adalah orang-orang yang menyediakan punggungnya untuk memikul apa yang seharusnya dikerjakan oleh negara—yakni mengurus kebudayaan—tetapi tidak dikerjakan oleh negara,” Rizal berkata. Sebuah ironi yang menurutnya masih terjadi hingga hari ini.

Diskusi tentang nasionalisme atau karakter bangsa dalam sebuah film, Rizal mengatakan, jauh lebih menarik pada zaman awal berdirinya Republik ini ketimbang zaman sekarang. Menurutnya, selama ini deretan film yang mengangkat nama-nama besar pahlawan, tampaknya lebih banyak memberikan indoktrinasi ketimbang proses pengembangan daya kritis kita untuk menjawab pertanyaan apa makna sebuah bangsa.

“Kita bisa memakai istilahnya Bung Karno bahwa nasionalisme kita hari ini adalah nasionalisme kemenyan,” ujarnya. “Sangit saja baunya tapi tidak ada satu tawaran yang bisa membuat kita berpikir nation itu seperti apa sih.”

“Sangit saja baunya tapi tidak ada satu tawaran yang bisa membuat kita berpikir nation itu seperti apa sih,” ujar JJ Rizal.

Setidaknya terdapat dua film lainnya yang terinspirasi oleh karya sastra Sitor Situmorang. Film Naga Bonar (1987) yang diadaptasi dari cerpen Pertempuran, dan film Bulan di Atas Kuburan (1973) yang diadaptasi dari salah satu sajak Sitor yang terkenal pada 1950-an. Pada 1956-57 Sitor melanjutkan studinya dalam bidang sinematografi di University of California. Sempat mendekam dalam penjara tanpa pengadilan pada 1967-76. Sang legenda itu wafat di Apeldoorn, Belanda, pada 20 Desember 2014, dalam usia 90 tahun.

Mahandis Yoanata Thamrin
Sumber: National Geography Indonesia